Beberapa Carik Rasa
Cerita Tentangmu
Apa kabar malam? Malam tanpa tawanya lagi, tanpa senyumannya
lagi. Kini waktuku terhenti bersamamu. Aku masih saja meratapi kepergiaanmu,
kepergiaan yang tidak tau akan kembali atau tidak akan kembali lagi. Ini cerita
tentangmu, yang begitu lelah untuk aku rangkum dalam beberapa carik kertas.
Ternyata perasaanku masih sama, perasaan dimana aku masih bisa
ternyum ketika melihat wajahmu dalam lamunanku. Begitu bahagia, dan tawaku
masih tersisa ketika aku tertawa bersama lamunanku. Semua begitu nyata, kalau
kamu masih berpihak padaku. Tapi realita kehidupan menyatakan kamu memilih
rumah yang baru.
Kamu tau betapa aku sangat membelamu, membela terhadap orang
yang ingin berkata kalau kamu begitu buruk. Tapi aku tetap saja mau mempercayai
kata katamu yang engkau lantunkan dengan tatapan yang serius. Apa aku terlalu
bodoh bersikap seperti ini?. Kenapa aku memiliki hati yang sekeras ini untuk
mempertaruhkan namamu didepan banyak orang. Rasanya hati tidak pernah berbohong
kepada tempat ia tinggal.
Begitu sulit untuk mengatur semua hal yang berkaitan denganmu,
tetapi mengapa aku masih bersemangat untuk tetap ada jika engkau membutuhkanku.
Apa aku adalah peran pengganti yang jarang untuk diperlukan. Atau bahkan engkau
tidak pernah melihatku sebagai peran pengganti.
Bukankah peran pengganti yang terus berusaha berperan dengan
baik akan menjadi peran utama? Apa benar itu semua? Atau tidak ada kesempatan
untukku menjadi peran utama. Hanya bayangan dan mimpi saja untuk menjadi peran
yang paling dibutuhkan.
Bukan mauku untuk merusak skenariomu dalam cerita tersebut tapi
begitu menyakitkan hanya menjadi bayang bayang saja dalam sebuah sinema.
Kapankah aku menjadi peran utama dari cerita ini? Atau aku harus undur diri
dari peran ini, agar semua menjadi baik baik saja tanpa ada yang rusak sedikit
pun.
Ataukah aku hanya pantas menjadi penonton bayaran yang hanya
tersenyum palsu saat melihat adegan yang tidak sesuai dengan hati. Jadi aku
harus bagaimana? Harus undur diri secepatnya kah dari cerita ini, cerita dimana
aku sangat menginginkan peran utama, peran dimana endingnya akan bahagia.
Secepatnya cerita tentangmu ini akan ku akhiri dengan senyuman
dan tak ada lagi tangisan yang tersisa. Bukankah aku lemah? Aku kira aku benar
benar baik baik saja, ternyata semua itu hanya halusinasi.
Bukan tentang bagaimana aku sangat mengingkanmu, tapi tentang
bagaimana aku ingin menjadi sumber tawamu walau tak harus menjadi orang yang
spesial dalam kehidupanmu. Mengapa jadi seperti ini ya, aku sosok yang kuat
dalam menyembunyikan emosi, emosi sedih ataupun amarah. Tapi untuk kali ini aku
benar benar sedang dititik ingin bercerita tentangmu lagi. Dimana kebahagiaanku
datang tepat dimana aku kehilangan nyawaku yang sebelumnya.
Ternyata film hanyalah sebuah khayalan, apa aku yang tidak sadar
aku pernah menjadi peran utama walaupun hanya sebentar. Kisahku akan segera
berakhir dengan ending senyuman, entah senyuman yang masih berbaur dengan luka
ataukah memang benar benar sudah jernih seperti air mengalir.
Baiklah ikuti saja air seperti apa yang pernah kamu bilang, jika
memang ada kesempatan untuk menjadi bagian peran utama walau hanya beberapa jam
akan ku ambil. Untuk apa? Untuk melihat tawamu lagi yang sudah tidak terlihat
di malam malamku. Hanya sebentar, aku mohon sebentar saja walaupun sehabis itu
kamu mengucap selamat tinggal untuk kedua kalinya.
Maaf sudah mengganggu waktu kalian untuk sedikit menengok
ceritaku yang berada di titik lemah ini. Hanya sebentar saja ku persilahkan air
mata datang lagi, agar aku kuat menjadi peran pengganti jika dibutuhkan lagi.
Terima kasih Tuhan memberikan kesempatan luar biasa ini untuk aku jalani dengan
proses yang begitu sempurna untuk menciptakan hal yang bahagia di masa yang
akan datang nanti. Terima kasih hati telah menyetujui ego dan pikiranku, mari
bersama sama menggengam tubuh agar tidak jatuh. Terimakasih....
Komentar
Posting Komentar