Cerpen

Hallo Guys !!
Gue kangenn banget ngeblog wkwkwkwk .. Sumpah dah gue kangenn sama orang orang yang ngeliat blog gue..
Ya walau gue tau, blog gue gak penting. 
Tapi gue harap sih nanti nya blog gue bakal penting hehe ..
Gue ada cerita pendek baru nih guys ..
Doain ya, gue bisa bikin novel..

-Selamat Membaca-





Rival terbaik

Darell adalah sosok yang sangat misterius, dengan gaya cueknya membuatku sangat penasaran dengan jati dirinya. Maka dari itu aku sangat senang jika aku membuatnya kesal dan emosi kepadaku. Dan setiap hari aku selalu membuatnya kesal. “Ehh lo tau gak sih?” Ucapku sambil menepuk bahunya. “Tau apaan?” Tanya Darell dengan muka juteknya. “Wiiihh gila galak banget jawabnya” Ucapku meledeknya. “Gak jelas dan gak penting banget” Gumamnya kesal. “Hahaha gitu doang baper” Ucapku tertawa. “Engga biasa aja sih. Emang lo mau ngomong apaan sih” Ucapnya sambil menaikan sebelah alisnya. “Itu lo beli kacamata dimana?” Tanyaku tersenyum. “Emang kenapa?” Ucapnya dengan penasaran. “KACAMATA LO, MIRIP KACAMATA ANAK ALAY” Teriakku ditelinganya, dan aku langsung menjauh darinya. “Ghita!!! Sini lo jangan lari!!” Teriaknya sambil melepaskan sepatunya. Aku tau dia ingin melemparkan sepatunya itu kearahku. “Payung siapa nih?” Tanyaku pada seseorang, ketika aku melihat payung didekatku. “Payung gue” Jawabnya. “Gue pinjam ya” Ucapku mengambil payung itu, payung ini berguna untuk melindungiku hahaha.
Dan------ “Duh sakit!” Gumamku mengringis kesakitan. Ternyata payung itu tidak sanggup menahan lemparan sepatu Darell, dan akhirnya payung itu rusak. “Rasain tuh haha” Ucap Darell sambil tertawa berderai. “Jahat lo” Ucapku dengan kesal. “Bodo amat” Ucap darell sambil pergi meninggalkanku.
***
Malam dengan angin yang berlari lari di sekitar balkon ini. Bintang yang selalu melihatku terdiam dikala ku kesepian. Entah apa yang rembulan lakukan jika bintang melihatku seperti ini. Apakah rembulan ikut terdiam seperti bintang. Hanya angin selalu senang jika berada di dekatku. Itulah gambaran ayah dan bunda layaknya seperti bintang dan rembulan. Yang jauh dariku dan disaat mereka melihatku, mereka hanya terdiam. Lain dengan bi Faizah dia selalu senang jika berada didekatku dan dia selalu menemaniku disaat aku kesepian. “Non Ghita?” Panggil bibi. “Kenapa bi?” Tanyaku melihat kearah bibi. “Ada yang menelphon non” Ucapnya sambil memberikan telphon rumah. “Siapa yang telphon bi? Apa ayah atau bunda?” Tanyaku tersenyum. “Bukan tuan dan nyonya non” Bibi menunduk. Aku pun langsung tersenyum kecil, dan menahan rasa kecewaku agar aku tetap kuat menahan rinduku ini. “Yaudah bi, makasih ya bi” Ucapku tersenyum kecil.
Aku pun langsung menjawab telphon ku tiba tiba— “Woii!! Buku pr bahasa Indonesia gue lo kemanain. Pasti elo kan yang ngambil!!!!!” Teriaknya dari telphon. “Jangan teriak plis” Ucapku dengan datar. “Lo ngaku aja dulu, baru gue gak teriak” Gumamnya dengan kesal. “Iyaa buku bahasa indonesia lo sama gue” Ucapku dengan tenang. “Kenapa lo ambil buku bahasa indonesia gue!!?” Teriaknya dengan kesal. “Bacot!! Gue bilang kan jangan teriak teriak!!” Ucapku dengan kasar. “Iya iya maaf. Lagian lo duluan yang bikin gue emosi. Besok lo bawa buku gue, awas aja ketinggalan gue gak akan maafin lo!!” Ucapnya dan lalu dia memutuskan telphonnya.
***
Hari ini pasti si Darell bikin telingaku sakit. Jati dirinya sekarang sudah mulai ketauan, sebenarnya dia orang yang bawel tapi dia suka malas berbicara. Maksudnya bawel itu adalah dia suka bawel disaat dia mulai kesal dan emosi. Dan dia malas bicara karena bagi dia kalau gak penting ngapain berbicara karena akan membuang waktu. “Non sini, nyonya dan tuan sudah pulang” Teriak bibi. “Iya bi” Ucapku sambil mengahampiri bibi. Dan disaat aku melihat ayah dan bunda aku langsung memeluk mereka berdua. Tapi mereka tidak memeluk ku balik dan mereka tidak berbicara sepatah kata pun. Mungkin kesalahanku bagi mereka hal yang sangat fatal. Aku harus terima kenyataan sekarang. “Non harus kuat ya. Bibi tau apa yang non rasakan” Bisik bibi sambil mengelus pundakku. “Iya aku gak papa kok bii. Aku berangkat dulu ya bi” Ucapku tersenyum kecil.
**
Aku masih menahan rasa sakitnya melihat kedua orangtuaku seperti orang lain di hadapanku. Aku melewati lorong lorong yang berada disekolah dengan tetesan air mata. Mata yang tak sanggup lagi menahan semuanya. Saat ini aku gak tau harus berbuat seperti apa. “Eh lo ngapain disini terus buku bahasa Indonesia gue mana!?” Tanya Darell dari samping. Aku hanya bisa menunduk dan menggelengkan kepala. “Eh lo kenapa? Lo masih bisa bicara kan?” Tanya sambil menepuk bahuku. Aku masih tidak ingin menjawab pertanyaannya. Dia mulai penasaran denganku karena aku tidak bawel dan hanya bisa berdiam saja. Dia pun menjepit poniku dan melihat kearah wajahku. Saat ini wajahku pucat dengan mata yang mulai memerah. “Lo kok nangis?, gue salah ngomong ya” Tanyanya sambil mengelus pundakku. Aku hanya menggelengkan kepalaku dan masih menunduk lalu air mata itu seakan tidak mau berhenti. Darell pun memelukku “Lo kenapa Ghit. Cerita aja sama gue, maaf ya kalau gue tadi ngomongnya dengan nada kasar” Ucapnya mengelus rambutku. “Tenang ya Ghit gue ada disamping lo kok” Ucapnya dengan lembut. Aku pun melepaskan pelukkannya dan tersenyum kecil “Makasih ya rell”. “Makasih untuk apa?” Ucapnya sambil menaikan sebelah alisnya. “Makasih lo udah nenangin gue” Ucapku lalu aku mengambil sebuah buku dari dalam tasku. “Ini buku lo, makasih atas contekannya” Ucapku sambil memegang bukunya. “Gue gak izinin lo buat nyontek” Ucapnya sambil menggerutu. Aku pun berlari menuju kelas dan berteriak “Sekali lagi Thanks”.
**
Kenapa tadi aku nyaman banget ya pas dipeluk si kutu. Gak mungkin juga kan aku tiba tiba suka sama si kutu. Gak mungkin terjadi juga kan, dia pinter dan aku anak yang malas. Gak tau bakat aku apa. Aku gak kaya kak Hinia yang selalu dibanggakan ayah dan bunda. Dan coba aja kak Hinia masih ada, dia pasti udah buat ayah sama bunda menjadi orang yang sukses dalam mendidik anak. Dan kenapa bukan aku aja yang diambil nyawanya kenapa harus kak Hinia. Aku hidup juga gak ada artinya, hanya jadi tembus pandang diantara kedua orangtuaku. Kecelakaan mobil itu didalamnya hanya ada aku,Alisya dan kak Hinia. Dan karena kesialan yang berada di dalam diriku membuat mereka terluka. Alisya sudah tiga tahun ini masih saja koma. Kalau Alisya bangun dari komanya dia juga pasti membenci aku sama seperti ayah dan bunda. Kalau Darell dan teman teman yang lain tau tentang masalah ini mungkin mereka tidak mau bermain denganku karena nyawa mereka diujung tanduk. “Ini minum dulu” sebuah botol air putih berada di depan wajahku. “Makasih” Ucapku tersenyum kecil. “Tumben hari ini lo hari ini gak rusuh, lagi ada masalah ya” Tanyanya dengan heran. “Engga ada kok. Cuman gue mulai mengikuti jejak lo aja. Gue lagi males ngomong aja” Ucapku berbohong. “Bohong. Gue tau sifat lo” Ucapnya.
Tiba tiba handphone ku bergetar ternyata ayah yang menelphone ku. Dan ku angkat dengan hati hati. Dengan perasaan kaku dan bingung. “Hallo ayah” Ucapku dengan gemetar. “Hallo anak ayah” Ucap ayah dengan lembut. Dan tidak ku sangka ayah tadi bilang aku anaknya. Sudah tiga tahun aku tidak merasakan ini. “Iya kenapa ayah?” Ucapku sambil meneteskan air mata karena aku sangat senang. “Kamu bisa ke rumah sakit tidak? Alisya sudah sadarkan diri nak” Ucap ayah. “Syukur alhamdulillah. Aku bisa yah” Ucapku tersenyum lebar. “Yaudah hati hati dijalan ya nak” Ucap ayah. Aku pun langsung merapikan tasku, karena bel pulang sekolah sudah berdering jadi aku bisa langsung ke rumah sakit. “Eh mau kemana gue ikut dong” Ucap Darell ikut merapikan tas. “Yaudah ayo cepet” Ucapku. Setelah buku dan semua telah dimasukkan ketas, aku dan Darell menuju parkiran. “Eh bentar gue aja yang bawa mobil lo, soalnya lo kan masih kurang sehat. Mana kunci mobilnya?” Ucapnya sambil menaikan sebelah alisnya. “Terus mobil lo gimana?” Tanyaku. “Udah biarin aja, disini aman kok” Ucapnya dengan santai. Lalu aku pun mengasih kunci mobilku.
**
Di dalam perjalanan aku ngasih petunjuk arah mau kemana tujuan yang sebenarnya. Dan setalah sampai di rumah sakit. Aku pun berlari menuju kamar Alisya, Darell pun terus mengikutiku. Sampai di kamar Alisya dengan cepat aku memeluk dirinya. Rasa rindu itu pun lepas dengan begitu saja. Air mata yang mulai membasahi pipi diiringi senyuman yang begitu indah. Kami berdua pun sangat lega bisa dipertemukan kembali didunia nyata ini. “Ghita sahabat gue, bagaimana kabar lo? Lo kok tambah cantik, gue jadi iri sama lo” Gumam Alisya sambil tertawa. “Alhamdulillah gue baik. Hahaha engga gue masih sama kaya yang dulu. Lo malah yang tambah cantik” Ucapku ternyum lebar. “Oiya nak. Maafin ayah dan bunda ya, sudah salah sangka sama kamu. Ternyata penyebab kecelakaan ini adalah Ayrin, dan Ayrin sudah di tangkap oleh polisi” Ucap ayah sambil memelukku.
“Ayrin sahabatnya kak Hinia yah?” Ucapku dengan gemetar. “Iya nak, Ayrin sahabat kakak kamu. Dia memutuskan rem dan merusak semua yang ada dimesin mobil yang kamu kendarai tiga tahun lalu bersama Alisya dan Hinia” Ucap ayah sambil mengelus rambutku. “Bukan kamu yang salah nak, kami berdua sangat lah bodoh memperlakukanmu seperti seorang pembunuh. Kami berdua tidaklah pantas menjadi orangtua. Kami sangatlah bodoh, kesalahan kami sangatlah fatal nak” Ucap bunda sambil mengeluarkan air mata. “Ayah dan bunda tidak salah kok. Aku mengerti perasaan ayah dan bunda, maafkan aku ya ayah, bunda” Ucapku menunduk. “Tidak nak, kami berdua tetaplah salah. Dan sebagai gantinya kami berdua akan selalu meluangkan waktu bersamamu, dan tidak akan terjadi kesalahan seperti kemarin nak” Ucap Ayah dengan tersenyum lebar. Lalu ayah dan bunda memelukku dengan sangat erat. Ternyata tuhanku maha adil, semua telah dipersiapkan dengan sempurna.
“Ghit, itu siapa yang berada di depan pintu?” Tanya Alisya sambil menaikan sebelah alisnya. Oh iya pasti itu Darell, tadi kan dia ikut bersamaku. Aku pun membukakan pintu dan menyuruhnya masuk keruangan Alisya. “Wah ganteng” Ucap Alisya tersenyum lebar. “Pacarnya Ghita ya?” Tanya bunda sambil tersenyum. “Bukan kok tante, dia rivalnya saya hehe” Jawabnya sambil menyengir. “Apa apaan rival, nama gue Ghita Shakira Purnama bukan Rival” Ucapku dengan lantang. Dan semua orang yang berada di ruangan itu tertawa.
***
Setelah kejadian kemarin aku sangatlah senang karena semua penderitaanku sudah habis. Dan moodbooster pun juga selalu ada. Ya walaupun dia selalu bilang aku ini rivalnya tapi semua itu terasa indah entah sampai kapan aku selalu menjadi seperti ini. Karena dia lah yang selalu menjadi alasanku, mengapa aku kuat menjalankan selalu masalahku. “Masalah lo udah selesai kan?” Ucapnya sambil merangkul bahuku. “Udah” Ucapku tersenyum lebar. “Tapi masalah kita berdua belum selesai” Ucapnya dengan lantang. “Emang kita ada masalah?” Tanyaku dengan heran. “Ada” Jawabnya dengan singkat. “Malasah apaan!” Gumamku sambil menggerutu. “ ‘Masalah hati’ Asik kan kata kata gue. Hati gue udah kesangkut di lo Ghit, lo yang merubah pikiran gue dan merubah perilaku gue Ghit. Makasih lo juga udah selalu menginspirasi gue” Ucapnya sambil mengelus rambutku. “Lebay banget kamvret” Ucapku. Saat itu aku pun merasakan hal yang tidak wajar saat dekat dengannya sekarang. “Gue serius ember!. Lo mau gak jadi cewe dan selalu jadi rival gue?” Tanyanya dengan serius dan menggenggam tanganku. “Gue udah jadi cewe!!” Jawabku dengan keras.
“Eh maksud gue. Mau gak lo jadi pacar gue?” Tanyanya sambil tersenyum lebar.
“Hhhm mau Rell. Dan thanks udah ngewarnai hari hari gue” Ucapku dan memeluknya dengan erat.
Dan tiba tiba Vanessa menghampiriku “Ghita payung gue gantiin!! Dan sekalian pajak jadian lo berdua” Ucapnya dengan kesal. “Minta ganti payungnya sama Darell ya soalnya dia yang ngerusakin payung lo. Dan ini uang pajak jadiannya” Ucapku tertawa dan memberi uang seribu sebagai pajak jadian.
Dan aku pun lari dari Darell karena Darell yang mengganti payung yang rusak waktu itu. Saat ini aku benar benar bahagia karena-Nya. Terima kasih tuhan kau telah memberikan rival dan masalah yang berakhir dengan solusi indah.
-selesai-

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tanpa Judul

Beautiful Moon